Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (jilbab merah) bersama rombongan meninjau JLS. (Foto: Instagram)
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (jilbab merah) bersama rombongan meninjau JLS. (Foto: Instagram)

Rombongan Pemerintah Provinsi (pemprov) Jawa Timur (Jatim) melakukan off-road di sepanjang jalan lingkar selatan (JLS) Malang Selatan.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa pun secara langsung turun dalam off-road yang digelar Sabtu (25/1/2020) kemarin. Gubernur perempuan pertama di Jatim ini menyusuri JLS Lot 9 dan mengunjungi berbagai pantai Malang Selatan. Seperti pantai Kondang Iwak, Kondang Merak serta jembatan Bajul Mati. 

Rombongan Pemprov Jatim yang didampingi Bupati Malang Sanusi serta jajaran, juga menengok proses pembangunan di Lot 8 JLS. Salah satu spot pembangunan yang jadi perhatian Khofifah adalah di jalur Srigonco, Bantur. Yakni pembangunan jembatan baja Jurang Mayit yang sampai saat ini belum rampung pengerjaannya.

Khofifah berharap, pembangunan jembatan Jurang Mayit bisa terselesaikan di tahun 2020 ini.
"Saya berharap bisa selesai tahun ini. Agar akses wisatawan ke pantai selatan dapat lebih cepat dan aman ditempuh," ucapnya.

Khofifah juga meminta kepada Pemkab Malang, saat pembangunan selesai maka namanya diganti. "Saya usul jika sudah selesai, nama jembatan ini jangan menggunakan nama Jembatan Mayit. Tapi, Jembatan Sumber Bahagia," ujarnya.

Jalur tersebut oleh masyarakat setempat memang disebut jembatan Jurang Mayit. Hal tersebut karena lokasi pembangunan tepat berada di jurang dengan turunan/tanjakan tajam berkelok dan cukup ekstrem. Jalur tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara dari arah Bantur menuju pantai selatan. 

Selain lebar jalan yang sempit, kelokan tajam dan naik turunnya sangat berbahaya. Tak jarang banyak terjadi kecelakaan dan bumbu mistis menyertainya. Sehingga lokasi itu pun semakin terkenal dengan sebutan seram, Jurang Mayit.

Kondisi ini pula yang membuat Pemkab Malang sejak bertahun lalu, mulai melakukan proses kajian dan pembangunan di lokasi sepanjang jalur Srigonco, Bantur, yang terkenal ekstrim dan sangat berbahaya. Pelebaran jalan sekaligus pembangunan jembatan baja itu sudah dimulai sejak tahun 2017 lalu.

Dana sebesar Rp 12 miliar pada tahap pertama dan kedua di gelontorkan Pemkab Malang. Untuk tahap pertama (2017) Rp 5 miliar, sedangkan tahap kedua (2018) sebesar Rp 7 miliar. Disusul 2019 sebesar Rp 6 miliar untuk menyelesaikan pembangunan di area itu.

Sayangnya, anggaran kembali menjadi kendala, sehingga pembangunan jembatan sepanjang 102 meter tak terselesaikan sesuai target di tahun 2019 lalu. Kurang anggaran untuk rangka baja sebesar Rp 8 miliar, membuat harapan besar yang bisa jadi sumber (ke) bahagia (an) Pemkab Malang dan tentunya masyarakat serta wisatawan harus tertunda.

Belum tuntasnya pembangunan jembatan itu, menurut Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Kabupaten Malang, dikarenakan masih belum tersedianya anggaran untuk kerangka baja jembatan dengan nilai sekitar Rp 8 miliar. Anggaran yang sejak tahun lalu  diformat bisa dibiayai oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). 

Romdhoni Kepala Dinas PU Bina Marga Kabupaten Malang yang juga mendampingi off-road JLS Khofifah dan rombongan, menyampaikan, pihaknya memiliki target di tahun 2020 ini bisa menyelesaikan pembangunan jembatan Jurang Mayit.

"Kita rencanakan selesai tahun ini. Sehingga harapan ibu Gubernur area ini bisa menjadi sumber kebahagiaan bisa diwujudkan," ujarnya.

Posisi penting jalur Srigonco tak bisa dilepaskan dalam upaya konektivitas JLS. Masuk di koridor tengah, jalur Bantur, Srigonco, masih jadi jalur yang dipadati wisatawan untuk bisa menikmati berbagai pantai di Malang Selatan. Misalnya, pantai Balekambang, Kondang Merak, Bengkung, Ngliyep, Nganteb, dan lainnya.

Tanpa penyelesaian pembangunan di jalur yang masuk Lot 8 JLS, maka Lot 9 yang direncanakan selesai di 2022, tak akan maksimal. Khususnya bagi wisatawan yang menempuh koridor tengah. Maka, nama Jurang Mayit pun akan tetap tersemat di sana.