Nurbani Yusuf
Nurbani Yusuf

Dinasti Amien Rais rubuh di kongres ke V.  Pecah mitos pecah tradisi di tangan besan sendiri—atau mungkin dinasti baru dari trah yang lain.

 

Republika menulis: Setidaknya, ada dua tradisi dan mitos yang dipecahkan dalam terpilihnya Zulkifli. Pertama, Wakil Ketua MPR ini menjadi ketum PAN pertama yang terpilih dalam dua periode, bahkan berturut-turut. Kedua, Zulkifli memenangi kontestasi calon ketua umum PAN tanpa restu Amien.

"Tradisi restu Amien Rais (AR) di PAN menjadi luntur. Itu karena Zulhas melawan kebijakan AR (Amien Rais) soal regenerasi," kata Ujang. Sepanjang sejarah kepemimpinan PAN, ketum dijabat oleh orang yang berbeda dalam setiap periodenya. Dalam melanjutkan tradisi itu, Amien Rais pun selalu mendukung tokoh yang berbeda dalam setiap kongres.

Jika melihat lebih ke belakang, pada Kongres III PAN tahun 2010, pejawat Soetrisno Bachir berkontestasi dengan Hatta Radjasa. Saat itu, Hatta didukung Amien Rais. Hatta pun memenangi kongres tersebut. Kongres II lima tahun sebelumnya, Sutrisno Bachir memenangkan kontestasi melawan Fuad Bawazier.

Kultur politik Jawa masih kental nuansa patriarkhi—beberapa partai masih belum bisa meninggalkan kharisma dan pesona para founding father sebut saja Demokrat, PDIP dan PAN.

William Lidle memberi catatan menarik bahwa kepolitikan Jawa, apapun agamanya tak menghalangi pengaruh dan kharisma— Soekarno salah satunya. Sangat kuat di kalangan nasionalis-abangan dan terbukti memenangi pada banyak pemilu.

Tapi politik selalu bergerak dinamis—tradisi politik lama mungkin berubah, disusul tradisi politik baru yang mungkin juga sama. Seperti pernah digambarkan Prof Riefklets bahwa putaran sejarah akan berputar pada kumparan yang sama. Mungkin saja Zulhas dan Prof Amien sudah punya rencana yang kita tak pernah tahu. Meminjam teori politik dramaturgi —antara politik panggung depan dan panggung belakang. Siapa tahu keduanya telah makan lontong  sayur di loby belakang anjungan partai.

Meski jujur diakui PAN lahir dari rahim Muhammadiyah, keberadaan Prof Amien juga tidak terbukti menjadikan hubungan kepolitikan terjalin — bahkan ada kecenderungan jalan sendiri sendiri—apalagi di daerah-daerah, meski tak dibilang buruk, aspirasi politik Muhammadiyah belum sepenuhnya diakomodasi, maka lahirlah gerakan jihad politik, jihad konstitusi adalah jawaban atas buntunya hubungan keduanya.

Dengan kata tegas disebutkan bahwa PAN tak cukup aspiratif bagi Persyarikatan—realitas politik tak cukup kondusif, kader PAN dan kader Persyarikatan jua terlihat kurang komunikasi, menambah beban masala. Lantas bagaimana melihat hubungan PAN dan Muhammadiyah ke depan pasca Prof Amien? Menarik disimak.

Muhammadiyah juga akan berpikir cermat, apakah masih perlu menjadikan PAN sebagai kaukus politiknya atau kembali ke titik awal. Meski sejatinya tidak pernah sebangun. Bagi Pak Amien dan PAN, inilah hari-hari yang berat, sebab di antara keduanya ada hubungan 'ewuh pakewuh’ karena faktor kekerabatan sebagai besan. Tapi mungkin saja tidak bagi  Muhammadiyah—sebab secara institusional justru akan lebih mudah karena faktor pak Amien sudah ‘selesai’.

Dengan pikiran skeptis saya akan bilang: tanpa kehadiran Pak Amien—PAN kehilangan legitimasi di Muhammadiyah. Bagi Persyarikatan tak ada masalah, apa perlu membangun pola komunikasi baru —siapa tau lebih intens, saling memahami dan saling menggenapi—Jadi apa yang harus ditunggu

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar