Ilustrasi Al-Qur'an. (Foto: sindonews.com)
Ilustrasi Al-Qur'an. (Foto: sindonews.com)

Nabi Muhammad SAW memiliki sebutan al-ummi, ummi atau umi yang melekat. Beberapa memaknai sebutan nabi yang ummi di sini adalah Rasulullah tidak dapat membaca dan menulis.

Dalam Al-Qur'an surah Al-'Ankabut juga ditegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca kitab apa pun atau menulisnya sebelum Al-Qur'an diturunkan sebagaimana bunyi ayat 48:

Baca Juga : Kaki Atik Patah Saat Membunuh Musuh, Sentuhan Rasulullah SAW Membuatnya Sembuh

"Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab pun sebelum adanya Al-Qur’an dan engkau tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscara ragu orang-orang yang mengingkarinya."

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca dan menulis sesuatu apa pun sebelum turunnya Al-Qur'an. Hal ini menimbulkan satu pertanyaan, mengapa Allah SWT menurunkan Al-Qur'an kepada nabi yang tidak bisa membaca?

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) Dr Nurhadi MA membeberkan alasannya dalam diskusi tematik "Al-Qur'an dan Nuzulul Qur'an" pada acara Syiar Ramadan 1441 H UIN Malang.

Acara yang disiarkan di TV setiap hari ini digelar di hall Rektorat UIN Malang. Jumlah peserta yang datang terbatas dan tetap memperhatikan physical distancing. Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg bertindak langsung sebagai host.

Selain Nurhadi, terdapat 3 dosen lain yang menjadi pembicara dalam acara tersebut, yakni Menurut Dosen FITK Dr Muhammad In'am Esha MAg, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) Dr Munirul Abidin MAg, dan Dosen Fakultas Syariah Dr Isroqunnajah MAg.

Sebelum masuk ke alasan mengapa Al-Qur'an diturunkan kepada nabi yang ummi, Nurhadi bercerita bahwa sebelum Nabi mendapatkan wahyu Alquran pertama yaitu surat Al-'Alaq ayat 1-5, ia sempat mimpi melihat terbelahnya waktu subuh. Setelah mimpi itu, Muhammad mengalami perubahan spiritual di dalam dirinya. Rasulullah kemudian menjadi suka menyendiri, yang dalam Jawanya dikatakan bersemedi di Gua Hira.

"Lalu selang beberapa waktu turunlah malaikat Jibril dengan membawa wahyu tersebut. Diperintahkan Baginda Rasulullah untuk membaca, iqro'. Tetapi Baginda Rasulullah tidak bisa untuk membaca. Beliau lalu didekap oleh Malaikat Jibril sampai kelelahan. Tetap saja beliau mengatakan ma ana bi qori (aku tidak bisa membacanya). Dilepaslah kemudian. Lalu ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama, Beliau juga jawabannya ma ana bi qori. Begitu pula yang ketiga kalinya," kisahnya.

Bagian ini menurut sebagian mufassir memiliki maksud bahwa Allah SWT melalui Malaikat Jibril memberikan penjelasan yang kuat bahwasanya memang Nabi itu adalah orang yang tidak bisa membaca (ummi).

Baca Juga : Pemkot Kediri Resmi Keluarkan Maklumat Bersama Salat Idulfitri di Rumah Saja

"Sehingga apa yang diterima oleh Nabi itu benar-benar datangnya dari Allah," tegasnya.

Hikmah di balik fakta bahwa Nabi Muhammad tidak pernah membaca dan menulis adalah bahwa hal itu merupakan bukti yang menegaskan bahwa Al-Qur'an berasal dari Allah SWT, bukan karya Beliau.

"Beda rasanya kalau misalnya wahyu turun kepada orang yang sudah S3 misalnya. Bisa jadi tidak dipercaya karena itu jangan-jangan buatan sendiri," sambungnya.

Sementara nabi adalah orang yang ummi. Nabi tidak pernah sekolah dan tidak bisa belajar baca tulis.

"Jadi Nabi itu umi untuk memberikan penjelasan bahwa Nabi tidak membuat (Al-Qur'an) sendiri, tapi itu betul-betul genuine dari Allah," pungkas Prof Haris menyimpulkan.